Primbon, Mistik, Klenik, Paranomal, Metafisika
Ilmu Hikmah Terawangan HiperPower Energy
Buka Aura Pendulum
sembuhkan trauma fisik dan psikis dengan menulis -  ziarah ke makam mbah saripodang untuk keharmonisan -  noda yesus berharga 14 juta -  gretha zahar : ilmuwan dan tabib yang mengobati dengan media rokok -  sayur mentah bisa untuk tangkal kanker -  manusia terlalu sibuk, 'tuhan' pun harus online -  dikembangkan, viagra alami ala malaysia -  minum air goa badur dipercaya tingkatkan kecerdasan anak - 
Senin Wage, 22 Maret 2010 (6 Rabiul Tsani 1431H)  


Belum jadi member? Klik disini u/ Bergabung!

Login Member IndoSpiritual.com

Spiritual Blog


harapan wanita tentang seks yang perlu pria ketahui

unik : madu dimasukan ke air jadi sarang labah

cara mahluk halus menunjukan eksistensinya

horoskop anda periode 15-21 maret 2010

geger munculnya sumber air tiban di surabaya

mewaspadai segala bisikan gaib

sering masturbasi bisa berbahaya

membaca tanda-tanda alam agar selamat

lapan : badai matahari 2012 tidak akan langsung hancurkan peradaban manusia

gretha zahar : ilmuwan dan tabib yang mengobati dengan media rokok


[ selengkapnya ]
[ Cari ]


Feed Subscribe


Email Subscribe


Best Links

[ TEROPONG ]
Tafsir Mimpi
Kedutan
[ MENU ]
Konsultasi Spiritual
[ NETWORK ]



Follow Me on Twitter


Other Partner



Home > Artikel > Detail
    add favorites to your browser   Kamus Mistik, Klenik, Metafisik

Gus Dur : Weruh Sak Durunge Winarah

Kategori : Tokoh    kirim ke lintasberita.com  
 
KH. Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur meninggal dunia pada 30 Desember 2009, pukul 18.45 di RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Beliau dimakamkan keesokan harinya di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Mantan Presiden RI ke 4 ini meninggalkan seorang istri dan 4 putri.

Kita tentu merasa kehilangan sosok yang layak dijuluki Guru Bangsa ini. Di tengah keterbatasan fisiknya, beliau tidak kenal lelah memerjuangkan prinsip-prinsipnya. Hal ini merupakan cermin terpuji bagi siapapun yang secara fisik memiliki kekurangan agar selalu percaya diri menghadapi masa depan.

Di sisi lain, Gus Dur dikenal sosok kontroversial. Ucapan dan pemikirannya dianggap paling sering disalahpahami. Paradigma atau kerangka berpikirnya sering paradoks atau bertentangan dengan pendapat umum di masyarakat. Tentu saja hal ini memancing hujatan bertubi-tubi.

Namun demikian, andaikan kita mau sedikit mengkaji pandangannya yang tampak kontroversi, sebenarnya tersirat pesan penting dibaliknya. Beliau memikirkan apa yang mungkin belum terpikirkan orang lain. Bagi kalangan supranatural, istilah yang pas untuk ini disebut: weruh sak durunge pinarak/winarah (mengetahui sesuatu sebelum peristiwa itu terjadi).

Kisah-kisah supranatural bukan hal aneh di kalangan para kyai NU, termasuk Gus Dur. Salah satu faktornya karena sebagian kyai nahdliyin menjalankan tradisi sufistik. Di lingkungan NU, para kyai yang tergabung dalam tarekat memiliki pengaruh kuat terhadap masyarakat luas di pesantren ataupun di luar wilayahnya. Pengaruh yang mereka dapatkan datang dari kepercayaan masyarakat terhadap bakat supranatural yang dimiliki kyai. Dalam istilah eskatologi pesantren, kemampuan supranatural ini disebut khariqul ‘adah. Sementara masyarakat awam memandang kemampuan semacam itu sebagai suatu keanehan, ganjil, paradoks atau kontroversial.

Berikut ini adalah beberapa kisah bagaimana Gus Dur menyikapi kondisi yang terjadi dengan cara yang tidak lazim dan sulit dipahami masyarakat awam.

SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah)

Sesungguhnya Gus Dur berperan penting ditutupnya judi berkedok sumbangan SDSB. Siapapun tentu tidak akan pernah menduganya. Inilah kisahnya.

Pada Desember 1985, kupon berhadiah Porkas resmi dijual. Setahun kemudian (Oktober 1986), dana terkumpul mencapai Rp 11 miliar. Akhir 1987, Porkas berubah nama menjadi Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB). Dalam kurun 1987, KSOB menyedot dana masyarakat Rp 221,2 miliar.

Pada Juli 1988, Mensos menegaskan KSOB (dan TSSB) diperkirakan menyedot dana masyarakat Rp 962,4 miliar atau meningkat 4 kali dibandingkan tahun 1987.

Pada saat itu pula, sejumlah politisi DPR mulai menyatakan, KSOB dan TSSB (Tanda Sumbangan Sosial Berhadiah) menimbulkan ekses negatif, yakni tersedotnya dana masyarakat desa ke Jakarta dan dengan sendirinya memengaruhi kehidupan perekonomian daerah.

Awal Januari 1989, KSOB dan TSSB bermetamorfosis menjadi Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Akhir 1990, Pemerintah menambah frekuensi penarikan SDSB menjadi 9 kali.

Gelombang protes pun berdatangan. Protes datang dari para Gubernur Jawa Timur, Jawa Tengah, Aceh, Timtim, Kalimantan Selatan, dan Bengkulu. Bahkan Pemda Aceh dan Timtim menolak total peredaran SDSB.

Gelombang protes tidak hanya dari gubernur, tapi juga para ulama dan kalangan mahasiswa di berbagai daerah menuntut agar SDSB dihapuskan. Kalangan agamawan menilai SDSB adalah judi yang diharamkan. Sementara yang lain menilai SDSB memberi harapan hampa atau angan-angan kosong. SDSB dinilai meresahkan masyarakat karena banyak yang keranjingan judi dan jatuh miskin. Di samping itu bermunculan dukun palsu yang mengaku dapat menebak nomor. Pada intinya, tema yang mengemuka dalam demonstrasi menentang SDSB lebih kepada faktor ekonomi dan psikologi semata.

Meskipun tokoh-tokoh agama berulangkali menghimbau agar SDSB ditutup, tetapi tidak digubris Pemerintah. SDSB tetap berjalan tanpa halangan. Maklumlah, salah seorang pengelola SDSB adalah putra presiden. Konon pula, dibekingi Sudomo ( muncul plesetan: Sudomo Datang Semua Beres).

Lalu dimana peran Gus Dur dalam menghentikan judi SDSB ?

Di sinilah keanehannya. Gus Dur menggunakan strategi yang tergolong berani dan kontroversial. Sebagaimana diketahui, ketika itu Gus Dur menjabat Ketua Umum Dewan Tanfidziyah PBNU. Rupanya, tanpa sepengetahuan pengurus PBNU lainnya, termasuk dari Dewan Syuriah NU, Gus Dur meminta sejumlah uang kepada Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (YDBKS), penghimpun dana SDSB. Tentu saja tindakan ini tergolong berani, mengingat organisasinya mengharamkan SDSB.

Tindakan Gus Dur ini bocor setelah seorang pengurus YDBKS buka suara. Akibatnya sangat menggemparkan. Terjadi hiruk pikuk di tubuh ulama NU dan umat Islam. Bahkan Gus Dur seolah membela diri dengan mengatakan SDSB halal.

Akibat Gus Dur menerima uang judi tersebut, Kyai Ali Yafie yang duduk sebagai Rais Aam PB NU menyatakan mundur dari kepengurusan PBNU.

Inilah titik awal munculnya gelombang demonstrasi besar-besaran menentang SDSB. Ketika itu para demonstran menganggap SDSB telah memecah belah umat. SDSB dinilai berpotensi merusak kerukunan bangsa. Dengan kata lain, arus utama demonstrasi tidak lagi sebatas tema masalah ekonomi dan psikologi, melainkan perpecahan di masyarakat.

Tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan Pemerintah. Perpecahan di masyarakat berpotensi menimbulkan huru hara atau kerusuhan yang lebih luas. Pada akhirnya, Pemerintah secara resmi mencabut dan membatalkan pemberian izin SDSB pada 25 November 1993.

Inilah paradoks paradigma Gus Dur. Kita baru menyadari sikap kontroversial Gus Dur ini setelah SDSB dibubarkan.

Tabloid Monitor

Tabloid MonitorPada 1990, Tabloid Monitor merupakan tabloid hiburan terbesar di negeri ini. Tabloid fenomenal ini laris karena menjual segala hal berbau ‘syur’. Mulai dari gosip artis sampai masalah seks. Sekwilda (sekitar wilayah dada), bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan kode buntut (Mbah Bejo) menjadi sajian utama. Tirasnya mencapai 600.000 eksemplar per minggu. Pemimpin Redaksi Monitor, Arswendo Atmowiloto, dinilai berhasil melahirkan jurnalisme Lheer (terbuka).

Di tengah kejayaannya, (konon katanya, ketika itu Arswendo bergaji 50 juta perbulan), dia terpeleset saat membuat polling. Tabloid Monitor memuat hasil jajak pendapat tentang siapa yang menjadi tokoh pembaca. Hasil angket menunjukkan Nabi Muhammad SAW menempati urutan kesebelas sebagai tokoh paling dikagumi, satu tingkat dibawah Arswendo yang menempati peringkat kesepuluh. Sedangkan KH. Zainuddin MZ dan Iwan Fals berada di atas Arswendo. Nomor 1 dan 2 dipegang Suharto dan Habibie.

Publikasi itu menimbulkan kegemparan di kalangan umat Islam. Tabloid Monitor dianggap melecehkan Nabi Muhammad SAW dan membangkitkan kembali sentimen SARA. Protes pun gencar dilancarkan. Mulai dari MUI hingga organisaasi yang mengatas namakan Islam. KH. Zainuddin MZ sempat berkomentar sinis,” mana mungkin ada mubaligh lebih populer dari Nabinya.”

Masyarakat marah dan terjadi demonstrasi di berbagai kota. Sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, menteri, termasuk para wartawan media lain ikut mengutuk tindakan Arswendo yang dinilai melakukan penodaan agama.

Sebagian demonstran mendatangi kantor tabloid tersebut dan melemparinya dengan batu. Dikabarkan, Arswendo sempat terkurung beberapa hari di kantornya dan ketakutan setengah mati. Tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat pasi. Andaikan saat itu dia keluar, mungkin massa akan mengeroyok hingga babak belur.

Dalam situasi keriuhan ini, tiba-tiba saja Gus Dur datang membela Arswendo. Tentu saja pembelaan ini menimbulkan hujatan terhadap dirinya. Tetapi pembelaan Gus Dur memang tidak mudah dipahami.

Saat itu Gus Dur mengemukakan agar umat Islam tidak mudah emosional dan menjadi pemarah. Namun yang pasti, Gus Dur menentang keras pembreidelan tabloid itu. Sebab dianggap bertentangan dengan hak kebebasan berpendapat.

Tetapi tuntutan massa tidak dapat dicegah. Dengan makin gencarnya protes, Pemerintah membreidel Tabloid Monitor pada 23 Oktober 1990. Tak lama kemudian, PWI Jakarta memecat Arswendo dari keanggotaan PWI dan mencabut rekomendasi jabatan Pemred. Tidak hanya Tabloid Monitor, tapi juga Majalah Hai. Arswendo pun dijebloskan ke penjara selama 5 tahun. (Belakangan saya dapat info, kasus Tabloid Monitor memang sudah di skenario oleh pesaing bisnis tabloid itu).

Hingga saat itu, tidak ada yang menduga sikap Gus Dur menentang pembreidelanTabloid Monitor memiliki makna penting di kemudian hari.

Pada 21 Juni 1994, beberapa media massa seperti Tempo, Detik dan Editor dicabut surat izin penerbitannya, atau dengan kata lain dibreidel setelah mereka mengeluarkan laporan investigasi tentang berbagai masalah penyelewengan negara oleh pejabat negara.

Demonstrasi bermunculan di berbagai tempat, khususnya mahasiswa, LSM dan para wartawan. Mereka menentang pembreidelan itu. Tetapi Pemerintah tidak menggubrisnya.

Ketika itu Gus Dur mengatakan bahwa pembreidelan Tabloid Monitor dijadikan uji coba pemerintah untuk menyiapkan pembreidelan media lainnya. Tetapi tidak seorangpun menyadarinya. Andaikan saat itu pembreidelan Monitor dicegah, tentu masyarakat akan menentang pembreidelan Tempo, Detik dan Editor. Tetapi, lagi-lagi tidak ada yang faham tindakan Gus Dur.

Inilah sekelumit pandangan Gus Dur yang bagi sebagian masyarakat dianggap kontroversial dan aneh. Gus Dur sungguh memahami apa yang bakalan terjadi dan beliau memang melakukan tindakan yang melompat jauh kedepan sehingga sulit dipahami orang awam.


Sumber : misteri
 
 
 
Dibaca : 1799 kali
 
KOMENTAR ANDA :
 


[ PARTNER ]
[ KEILMUAN ]

mendeteksi khodam mustika kendit

mengunci istri agar tidak bisa selingkuh

cara menguji jika seseorang kemasukan jin

mengembalikan segala jenis serangan santet

herbal rahasia penyubur kandungan

agar dimudahkan dalam persalinan

mengobati sakit perut secara gaib

komunikasi dengan khodam pendamping




[ PRODUK ]

hiperpower : energi untuk kesehatan, kecerdasan & penampilan

ilmu hikmah terawangan (kode : iht)

program penyembuhan penyakit medis-non medis jarak jauh

ebook reinkarnasi dari sudut pandang islam

ebook tafsir mimpi gratis

pengobatan tradisional menurut primbon jawa



[ PENCARIAN ]

Kata yang dicari



di



[ STATISTIK ]

  Member Aktif : 303





free counters

INDOSP, PO.BOX 5102 / JKT MAMPANG 12700, Indonesia
Email : support@indospiritual.com, SMS CENTRE : 0852-7947-3388
CopyLeft @ 2010, IndoSpiritual.com