Primbon, Mistik, Klenik, Paranomal, Metafisika
Pendulum Audio Pembangkit Energi Metafisika
Metode Alternatif Tambah Tinggi Badan Rajah Penakluk Sukma
Super Hipnotis Modern : Pengaruhi Orang Jarak Jauh Audio Zikir Menetralisir Energi Negatif
Paket Belajar Hipnotis Audio Pembangkit Energi Metafisika
Pendulum Ajaib untuk Deteksi Berbagai Hal Tasbih Nur Karomah
Software Pemusnah Santet Rahasia Dahsyat Kunci Kekayaan Agung
Nomor Handphone Pendongkrak HOKI VCD : Senam Praktis Penyembuh Sgl Penyakit
ilmu tenaga dalam kalung penyembuh penyakit
 
Senin Pon, 26 Agustus 2019 (24 Dzulhijjah 1440H)   

[ ADS ]
bisnis crypto
[ KEILMUAN ]

menaklukan pelaku ilmu gendam

agar lolos dari pemeriksaan oknum aparat

asma patirasa

rajah ilmu menghilang

asmak getak ambyak

doa pegangan para pemimpin

menundukan masyarakat di suatu daerah

khasiat hizib nasr




[ ARTIKEL ]

 fakta menarik mengenai mimpi

 tips diet berdasarkan golongan darah

 manfaat air kelapa untuk kecantikan dan kesehatan

 kisah mustika kelapa hajar aswad

 panjang umur dengan ramuan cokelat dan zink



[ TEROPONG ]
Tafsir Mimpi
Kedutan
[ MENU ]
JOIN NOW
LOGIN
Konsultasi Spiritual


Home > Artikel > Detail
Aktivasi Batu Permata

Puncak Ritual Pancawali Krama di Candi Cetho

by : Indospiritual
Kategori : Umum
 

Pancawali Krama, dalam budaya Jawa disebut ruwatan. Namun ritual ini adalah paling besar atau tertinggi dari sekian ritual Hindhu yang termaktub dalam lontar Bamakertih, Kitab Weda. Demikian dikatakan Jro Mangku Tirta, penanggungjawab sesaji dan jalannya ritual di Candi Cetho.

DALAM perspektif Hindhu, Candi Cetho dianggap sebagai pusatnya jagat Nusantara. Merupakan penyangga keseimbangan jagat Nusantara. Karena itu, Candi Cetho dipilih sebagai tempat dilangsungkannya puncak ritual Pancawali Krama. Demikian diungkapkan Jro Mangku I Ketut Pasek, wakil ketua Pariman Sulinggih PDHI Surakarta.

Pariman Sulinggih adalah dewan yang berhak menentukan Bisama, yang dalam Islam disebut Fatwa. Sementara itu, sejumlah media cetak di Jawa Tengah dan DIY, merilis hajatan besar tersebut diadakan berdasar wisik gaib yang diterima oleh Jro Mangku Alit. Namun, Jro Mangku Tirta, penanggungjawab sesajian dalam ritual tersebut mengatakan, gagasan pertama datang dari pihak Kraton Solo dan Jogyakarta, setelah menerima wisik gaib tersebut.

Jro Mangku Tirta bahkan mengatakan, Sri Susuhunan PB XIII, dalam sebuah kunjungan di Pura Besakih Bali pernah berpesan, agar kita tidak harus terikat oleh agama, tetapi terikat oleh leluhur. Jro Mangku Tirta lalu menandaskan, leluhur Kraton Solo dan Jogyakarta ada di Candi Cetho.

Sunardi, Ketua PDHI Gumeng yang juga Ketua Panitia lokal hajatan besar tersebut mengatakan senada, ritual Pancawali Krama diprakarsai oleh Kraton Solo dan Jogyakarta. “Konsep sedulur papat limo pancer dengan pusatnya di Candi Cetho itu berasal dari Jawa,” katanya.

Lepas dari wisik gaib tersebut diterima oleh siapa, Pancawali Krama diselenggarakan sebagai ruwatan nagari, yang dilatarbelakangi oleh situasi alam yang rawan bencana dan kebobrokan moral, serta bertujuan mengembalikan keseimbangan alam. Semua itu juga harus dilakukan dengan perubahan nyata dari umat manusia. Karena ini pula, ketidakhadiran presiden RI yang sebelumnya direncanakan akan hadir, cukup disayangkan.

Rangkaian upacara Pancawali Krama dimulai sejak pertengahan Mei lalu, di sejumlah lokasi seperti Geria Lusuh Karangasem, Bali, Sungai Bengawan Solo, Segara atau Parangkusumo, Pura Banguntapan Solo dan berakhir di Candi Cetho. Jro Mangku Tirta menjelaskan, lokasi diselenggarakannya rangkaian ritual tersebut memiliki makna, laut dan bumi atau daratan adalah sumber kehidupan. Sebagai simbol penyatuan, dalam sesaji terdapat hewan Penyu, yang menggambarkan bersatunya lautan dan daratan. Dalam Hindhu, Penyu disebut sebagai Bedawangalo, yang relifnya banyak terdapat di Candi Cetho dan Candi Sukuh. Undang-undang Negara RI yang melindungi kelangsungan hidup Penyu, tak berlaku dalam ritual Pancawali Krama tersebut.

Secara rinci, Jro Mangku Tirta menjelaskan, dalam Hindhu danau atau sumber air merupakan hal terpenting dalam setiap ritual suci. Di Jawa Tengah, keberadaan danau diwakili oleh Bengawan Solo dan Parangkusumo di DIY. Rangkaian itu merupakan upakara melasti atau pembersihan dari pengaruh jahat Butakala. Labuhan itu disebut Labuh Guntuh Candi Labade, dipersembahkan kepada Shang Kala Sunie.

Di Candi Cetho, 16 Juli, merupakan upakara Buta Nyadnya atau Mecaru. Puncak ritual 17 Juli adalah Ngeteg Linggih atau Dewa Nyadnya, bertujuan menstanakan atau menempatkan Dewa-dewa leluhur, terutama Dewa Kemakmuran yang disimbolkan dengan Lingga dan Yoni. Seluruh rangkaian tersebut disertai dengan beragam sesaji, yang menurut Jro Mangku Tirta telah diatur dalam lontar Bamakertih, bagian dari Kitab Weda yang khusus menjelaskan makna sesaji-sesaji tersebut.

Sumber : harian pos metro balikpapan



 
KOMENTAR ANDA :




ARTIKEL LAINNYA
pria china, klaim temukan alien

sekeluarga berjalan merangkak mirip manusia purba

dghostbust : komunitas fotografer pemburu penampakan hantu

legenda gunung rinjani

mengenal hukum tarik menarik (law of attraction)

menelisik kehidupan di tahun macan

anda jenius atau ber-iq tinggi ? silahkan tes di kampus binus

bambu apus, diyakini bisa sembuhkan segala penyakit

banyu sumurup, kampung pembuat keris

ada janin usia 17 minggu tersenyum lebar

 
 
 
VIDEO MISTERI PILIHAN
Penampakan Tuyul di Bogor
 


[ ADS ]
[ PRODUK ]

metode astral projection anti gagal

kumpulan audio hipnoterapi

program pembangkitan ilmu tenaga dalam

pagar gaib mobil

tasbih kayu kokka asli

metode alternatif menambah tinggi badan secara alami



[ PENCARIAN ]

Kata yang dicari



di



[ NETWORK ]






loading...

Email : support@indospiritual.com SMS CENTRE : 0813-8698-9797 (Sabtu/Minggu/Hari Besar Libur)
CopyLeft @ 2019, IndoSpiritual.com