Primbon, Mistik, Klenik, Paranomal, Metafisika
Pendulum Audio Pembangkit Energi Metafisika
Metode Alternatif Tambah Tinggi Badan Rajah Penakluk Sukma
Super Hipnotis Modern : Pengaruhi Orang Jarak Jauh Audio Zikir Menetralisir Energi Negatif
Paket Belajar Hipnotis Audio Pembangkit Energi Metafisika
Pendulum Ajaib untuk Deteksi Berbagai Hal Tasbih Nur Karomah
Software Pemusnah Santet Rahasia Dahsyat Kunci Kekayaan Agung
Nomor Handphone Pendongkrak HOKI VCD : Senam Praktis Penyembuh Sgl Penyakit
ilmu tenaga dalam kalung penyembuh penyakit
 
Minggu Legi, 17 November 2019 (19 Rabiul Awwal 1441H)   

[ ADS ]
bisnis crypto
[ KEILMUAN ]

menaklukan pelaku ilmu gendam

agar lolos dari pemeriksaan oknum aparat

asma patirasa

rajah ilmu menghilang

asmak getak ambyak

doa pegangan para pemimpin

menundukan masyarakat di suatu daerah

khasiat hizib nasr




[ ARTIKEL ]

 membaca pikiran lewat mata

 riwayat hotel paling angker sedunia

 membaca romantisme seseorang lewat zodiak

 tips menjinakkan kekuatan jahat dalam benda pusaka

 fakta menarik mengenai mimpi



[ TEROPONG ]
Tafsir Mimpi
Kedutan
[ MENU ]
JOIN NOW
LOGIN
Konsultasi Spiritual


Home > Artikel > Detail
Pelatihan Kecerdasan dan Stimulasi Otak

Sejarah Keris di Indonesia

by : Indospiritual
Kategori : Umum
 
kerisDari sekian senjata tajam, sejumlah di antaranya merupakan senjata dominan yang perannya mampu mengubah sejarah dunia. Senjata itu mencakup keris, pedang, tombak, dan bayonet.

Keris pada masa kerajaan-kerajaan kuno di Pulau Jawa merupakan senjata standar prajurit dan kewibawaan bagi para bangsawan. Bahkan menjadi ikon tersendiri bagi kelangsungan hidup kerajaan-kerajaan itu.

Sebagai contoh, Keraton Nyayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di Yogyakarta, hingga saat ini masih menggunakan keris untuk raja baru. Keris yang dinamai Kyai Jaka Piturun itu merupakan simbol kekuasaan, sekaligus keabsahan seorang raja sehingga tanpa adanya keris tersebut, calon raja tidak bisa dilantik.

Pada masa kerajaan Kediri dan Singhasari, dikenal adanya keris buatan Mpu Gandring yang digunakan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung. Dengan senjata keris Mpu Gandring itu, keturunan Ken Arok kemudian saling berebut kekuasaan dan membunuh hingga turunan ketujuh.

Saat Majapahit berdiri, keris dipakai oleh semua lelaki dalam kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan para prajurit kerajaan, keris yang mendapat kedudukan paling istimewa dibanding senjata lain, bahkan bisa dimiliki hingga tiga buah.

Para era modern, keris tetap menjadi syarat utama bagi pengantin pria Jawa saat menjalani perkawinan, Konon, tradisi pemandian keris ini dipengaruhi oleh kisah terbunuhnya Adipati Jipang, Harya Penangsang, saat bertempur melawan Raja Mataram, Panembahan Senopati.

Ketika terjadi perang tanding, tombak Kyai Plered milik Panembahan Senopati berhasil menghujam lambung Harya Penangsang sehingga ususnya terburai. Tapi Harya Penangsang ternyata tidak tewas, ususnya yang terburai akibat tikaman tombak ia belitkan ke gagang kerisnya, Kyai Setan Kober, dan terus melanjutkan perang tanding.

Harya Penangsang kemudian menghunus Kyai Setan Kober dari pinggangnya untuk menghabisi Panembahan Senopati yang sudah tak berdaya. Tapi keris tersebut malah memutuskan usus Harya Penangsang dan tewaslah musuh bebuyutan Penambahan Senopati itu.

Usai perang dan Mataram berjaya, Panembahan Senopati ternyata masih terkesan oleh kegagahan Harya Penangsang yang bertempur dengan usus terburai. Ia kemudian bertitah setiap ada upacara perkawinan, pengantin pria wajib mengenakan keris yang gagangnya diberi hiasan bunga kantil dan melati supaya gagah bak Harya Penangsang. Tradisi itu berlanjut hingga kini.

Keris dengan corak dan ukuran sangat beragam tersebar di wilayah Nusantara dan negara-negara serumpun di Asia Tenggara. Proses ini mendorong pusaka tersebut menjadi simbol kebaharian.

"Kalau ada keris di Filipina dan Moro, saya melihat itu sebagai hubungan yang saling memengaruhi. Saya yakin tidak akan ada peneliti yang sanggup mengungkap asal-usul keris karena keris itu bagian kebudayaan yang terus mengalir melalui laut," kata Ketua Umum The Bugis Makassar Polobessi Club Ahmad Ubbe.

Hadir juga pembicara lain, pencinta keris sekaligus mantan wartawan Kompas, Jimmy S Harianto. Pembuat keris Bugis dari Sulawesi Selatan, Panre Amri SB, yang juga dijadwalkan berbicara, berhalangan hadir.

Keris sebagai salah satu produk besi yang dibawa pelaut-pedagang dalam pelayarannya ke berbagai wilayah. Ahmad Ubbe menjelaskan, ketersediaan bijih besi di Sulawesi bagian tengah, Luwu, Banggai, dan Tobungku menjadi faktor berkembangnya pengetahuan dan teknologi peleburan bijih besi.

Pengekspor besi

Sejak abad ke-14, wilayah di sekitar Danau Matano atau hulu Sungai Kalaena tidak hanya menjadi penghasil bijih besi laterit dengan kandungan besi sampai 50 persen. Tempat ini juga menjadi pelabuhan pengekspor besi dan peralatan besi ke Barat dan Timur.

Ubbe, mengutip pernyataan Arung Mato (Raja Ketua) Wajo, La Maddukelleng, Sultan Pasir, Arung (Raja) Penekki dan Singkang, Petta Pamaradekaengngi Wajo, Tuan Kita Yang Memerdekakan Wajo (1736-1754), modal utama merantau hingga merajai beberapa kerajaan di Nusantara karena kemujuran dan doa, disertai ujung lidah yang lembut, kejantanan, dan ujung keris yang runcing dan tajam.

"Keris turut disebutkan dalam sebuah perantauan di Nusantara," kata Ahmad Ubbe.

Kebiasaan orang Bugis-Makassar membawa keris dan tombak dicatat dalam buku perjalanan Tome Pires (1513). Orang- orang Bugis-Makassar yang ditemui Tome memakai keris di pinggang dan tombak di tangan.

Selain melalui pelayaran dan perniagaan, keris atau senjata tajam lain menyebar melalui aktivitas budaya, seperti untuk pemberian hadiah antarkeluarga raja atau negara sahabat. Bahkan, peperangan pun menjadi sebab penjualan dan pembelian keris dan bentuk lain Polobessi mengalami perkembangan.

"Polobessi itu bermakna sebagai besi tempa yang dimuliakan," kata Ahmad Ubbe.

Berdasarkan kepercayaan masyarakat, besi dari Luwu diyakini memiliki kemampuan untuk menjinakkan ombak, membelokkan angin, dan menjinakkan hantu laut. Kepercayaan masyarakat ini menjadi bagian dari kebudayaan pula.

Pembuatan keris Bugis


Jimmy S Harianto memaparkan, keris bugis memiliki keistimewaan di dalam proses pembuatannya. Ia menyaksikan sendiri ketika Panre Amri membuat keris seorang diri dan selesai hanya dalam waktu empat jam.

"Ini sangat berbeda dengan proses pembuatan keris di Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta," katanya.

Di Jawa, lanjut Jimmy, keris dibuat seorang empu dan dibantu setidaknya dua orang. Seorang empu itu menjepit logam membara yang ingin ditempa menjadi keris. Kedua pembantunya akan menempa besi tersebut secara berirama.

Jimmy memaparkan, keris di berbagai wilayah di Sumatera memiliki kemiripan, kecuali keris dari Palembang, Sumatera Selatan, yang memiliki kemiripan dengan keris dari Jawa. Menurut dia, keris Nusantara berasal dari Sunda.

Sumber : nationalgeographic.co.id

 
KOMENTAR ANDA :




ARTIKEL LAINNYA
kucing lima telinga dari rusia

kisah mistis empire state building dan golden gate amerika

tetesan, menghilangkan sukerta perempuan

ini dia fakta adanya manusia super

merubah perilaku melalui self-hypnosis

hantu ibu dan anak picu kecelakaan di mulyorejo

mengenal satgas ratu kidul

fenomena ruqyah di jaman modern

feng shui untuk kamar tidur

bocah ajaib umur 10 tahun berenang 3 km dengan tangan-kaki terikat

 
 
 
VIDEO MISTERI PILIHAN
Pria Dengan Kekuatan 260 Tenaga Kuda
 


[ ADS ]
[ PRODUK ]

metode astral projection anti gagal

kumpulan audio hipnoterapi

program pembangkitan ilmu tenaga dalam

pagar gaib mobil

tasbih kayu kokka asli

metode alternatif menambah tinggi badan secara alami



[ PENCARIAN ]

Kata yang dicari



di



[ NETWORK ]


loading...

Email : support@indospiritual.com SMS CENTRE : 0813-8698-9797 (Sabtu/Minggu/Hari Besar Libur)
CopyLeft @ 2019, IndoSpiritual.com